
Hari Senin dan Selasa, tanggal 15- 16 Mei 2023, keluarga besar Prodi Pendidikan Sejarah, bersama panitia KKL Nasional Sejarah Tahun 2023, dan juga pihak Biro Mitra Tour Purwokerto, melakukan evaluasi kegiatan KKL Nasional Prodi, yang pada tahun ini dilaksanakan pada hari Rabu- Sabtu, tanggal 10- 13 Mei 2023. KKL Nasional tersebut diikuti oleh 79 mahasiswa dari semua angkatan baik semester 2, 4, 6 maupun 8. Hal tersebut sebagai syarat sesuai kurikulum untuk dapat melaksanakan dua kali KKL Nasional Sejarah. Sementara dosen pendamping sendiri terdiri dari 4 orang, yaitu Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum., Dr. H. Asep Daud Kosasih, M.Ag., Arifin Suryo Nugroho, M.Pd., dan Rendi Marta Agung, M.Pd.
Obyek studi sejarah yang yang dikunjungi sebagai bahan literasi, berada di 3 kota yaitu Cirebon, Bandung dan Jakarta. Literasi tersebut akan menjadi sumber analisis video maupun laporan tertulis, yang terbagi dalam 17 kelompok, dengan jumlah dosen pembimbing 6 orang. Evaluasi perjalanan melintasi obyek- obyek Sejarah tersebut, memiliki ragam kisah dan ragam pengalaman, yang masing- masing memiliki keunikannya sendiri.
Dari Purwokerto ke Batavia
KKL Nasional Sejarah Prodi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Purwokerto tahun 2023 ini, merupakan perjalanan kedua pasca pandemi di tahun 2020- 2021, yang sebelumnya telah mencoba mengawali KKL di tahun 2022, sebagai salah satu implementasi mata kuliah praktik. Salah satu poin penting program kurikulum tersebut adalah implementasi mata kuliah KKL 1 bagi semester II (dua) dan KKL 2 bagi semester IV (empat). KKL 1 berfokus pada obyek studi Hindu Buddha dan Praaksara, sementara KKL 2 berfokus pada obyek studi kebudayaan Islam dan Indis.
Obyek yang menjadi kajian berada di 3 kota, yaitu Cirebon, Bandung dan Jakarta (Batavia pada masa kolonial). Dari 3 kota tersebut, setidaknya ada 10 obyek (9 diantaranya adalah utama). Obyek tersebut adalah museum Linggarjati, keraton Kasepuhan Cirebon, museum Sri Baduga Bandung, museum Geologi, museum Nasional, Perpusnas RI, Arpusda DKI Jakarta, monumen Pancasila Sakti, kota Batavia (kini Jakarta) serta masjid terbesar di Asia Tenggara, masjid Istiqlal. Perjalanan dari Purwokerto, tentunya nuansa di kota Batavia yang paling berkharsima dan bergaya kolonial. Aura yang ditimbulkannya, dan fasilitas yang diberikan, seakan membuat para pengunjung kembali ke masa- masa saat Batavia menjadi ibukota Hindia Belanda. Sepeda antik masa Belanda, baju noni, wig para noni dan payung, merupakan fasiliats sewaan yang boleh dinikmati oleh para pelancong dalam dan luar negeri, termasuk kami para rombongan dari Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UMP Ya, sebuah simulasi pakaian yang identik dengan keluarga para kolonial Belanda pada abad XVII di Batavia. Yang dengan fasilitas tersebut pula, para penikmat, khususnya ketika menjelang senja, mata para pengunjung dimanjakan dengan cakrawala matahari di ujung Barat Batavia. Suasana yang bisa jadi mengingat luka jika kembali ke balik peninggalan kolonial diantara gedung- gedung tua berjejer rapih ini.

Telusur Sumber, Jejak dan Edu Sejarah
KKL Sejarah secara Nasional, bukan sekedar upaya menyegarkan kepala dan fikiran ditengah banyaknya tugas akademik, namun juga menjadi media dalam penelusuran sumber dan jejak- jejak sejarah yang terdahulu. Selain itu, KKL Sejarah ini, mampu memberikan edukasi dan pencerahan yang lebih valid dan kredibel. Sebab, selain melaksanakan tugas kelompok di lapangan, mahasiswa juga berlatih praktik pemanduan wisata sejarah di obyek- obyek yang telah ditentuan sebelumnya oleh Prodi Pendidkan Sejarah dan panitia KKL. Hal tersebut akan menjadi sarana yang pas bagaimana seharusnya mahasiswa dan dosen Sejarah menikmatai sebuah perjalanan, yang bernuansa pendidikan namun juga hiburan yang sarat ilmu. Ini yang menjadi fokus penting, tujuan dari KKL Sejarah Nasional, Terhibur dan Teredukasi namun tetap dalam koridor akademisi. (septian)



