Kartini Tidak Pernah Membahas Gundik?

oleh: Arifin Suryo Nugroho

Peranan perempuan dalam lintasan sejarah memiliki aneka makna dan tidak mungkin dilepaskan dengan struktur kemasyarakatan. Politik pintu terbuka terhadap modal luar negeri turut meningkatkan jumlah golongan menengah Eropa di Hindia Belanda. Lelaki Eropa membutuhkan perempuan di tanah jajahan dan memelihara perempuan pribumi. Nyai merupakan perempuan-perempuan pertama yang, selain maju di zamannya, tampak terpengaruh kebudayaan yang dibawa oleh modal dan tuan mereka. Keberadaan nyai dan pernyaian dalam gejolak modernisme di Hindia Belanda tampak dilupakan dan diasingkan dari sejarah.

Pernyaian dan Moral Kolonial

Perusahaan pertanian swasta yang tumbuh berkembang pada akhir Abad 19, ditandai dengan terbitnya UU Agraria 1870, mengkondisikan pemakaian tenaga kerja Bumiputra dan menggugah minat orang-orang Eropa untuk datang dan berburu nasib di Hindia Belanda. Kebanyakan tenaga kerja Eropa adalah laki-laki dan bagi yang sudah berkeluarga pada awalnya tidak memungkinkan untuk membawa keluarga mereka. Kondisi finansial pada awalnya tidak memungkinkan untuk menanggung anak istri, karena lelaki Eropa yang datang benar-benar hanya bermodal tekad mengadu peruntungan.

Jumlah perempuan Eropa yang sangat sedikit pada masa itu menjadi pemicu logis bagi makin menggilanya satu bentuk pergundikan, yang telah dirintis pada masa kolonialisme VOC. Dan memang harus diakui bahwa kebutuhan seksual yang mula-mula menghadirkan nyai sebagai indigenous housekeeperbaboe―pembantu rumah tangga pribumidi daerah-daerah perkebunan.

Adapun yang disebut nyaiialah perempuan yang dipelihara pejabat kolonial maupun swasta-swasta Belanda yang kaya. Bahkan sebelum Belanda datang, pedagang Asia dan Portugis sudah terbiasa memelihara nyai. Pada masa VOC, orang Belanda yang beristrikan orang Bumiputra tidak boleh membawa istri beserta anak-anak dari perkawinan itu ke negeri asalnya. Perkawinan tersebut dianggap tidak sah oleh gereja di sana. Peristiwa ini mendorong orang-orang kompeni untuk memelihara nyai, yang dapat setiap saat mereka tinggalkan.

Pada masa feodal, perempuan-perempuan kelas bawah tersebut menjadi korban pelampiasan seksual dan alat perluasan kekuasaan kaum bangsawan. Jumlah anak yang banyak dan tersebar di mana-mana juga akan memperkuat dan melanggengkan kekuasaan mereka. Perempuan-perempuan itu diangkut ke istana dan dijadikan “istri percobaan”, sampai raja dan bendoro-bendoro menemukan perempuan sederajat dan akan dikawini secara sah. Istri percobaan dapat diusir sewaktu-waktu dari istana dan tidak berhak mengasuh anak yang dilahirkannya. Selanjutnya pernyaian tidak hanya menyangkut pemenuhan biologis seorang laki-laki terhadap perempuan, melainkan harus dilihat pula implikasi ekonomi politik yang bersembunyi di belakangnya. Pada masa VOC, Jan Pieterszoon Coen mengemukakan bahwa perempuan merupakan prasyarat dalam berdagang: ”…..dasar negara di Hindia. Jika perempuan tersedia di pasar-pasar perdagangan di Hindia akan menjadi milik anda.”

Nyai Sebagai Organ Modernisme

Memelihara seorang Nyai membuka jalan untuk mempelajari adat setempat atau dapat digunakan untuk melenyapkan ras inlander itu sendiri, sebab anak-anak yang dilahirkan ditetapkan sebagai orang Eropa. Di samping itu, hubungan kebudayaan yang pertama justru berlangsung melalui perkawinan ini. Semuanya bertolak dari pergundikan atau perkawinan dengan perempuan Indonesia, Cina, atau Indo-Eropa. Pada setiap peristiwa, mula-mula perempuan tampil sebagai pembantu, walaupun sesudah perkawinan itu kedudukan perempuan ini akan mengalami perubahan yang sangat besar, Mengalami peningkatan status sosial lebih tinggi dibanding bangsa inlander lainnya.

Perkawinan campur mengawinkan pula dua sisi budaya yang berbeda. Misalnya seorang istri membawa suami Eropanya masuk ke dalam tata kebiasaan Hindia dan sebaliknya. Perkawinan antarbudaya tadi dapat disaksikan pada perilaku para pembesar Bumiputra yang lebih senang duduk di kursi daripada berjongkok di lantai, atau para pembesar Belanda memakai destar dan kain yang dikombinasikan dengan jas potongan Eropa serta masih dilengkapi dengan payung lambang kebesaran.

Nyai-nyai itu juga memiliki selera dan gaya hidup Eropa. Akan tetapi, posisi nyai adalah posisi yang rawan. Keberuntungan para nyai dalam mengecap kesenangan hidup hanya bersifat semu dan sementara. Ia terancam ditinggalkan karena tuannya bisa setiap saat kembali ke Belanda. Tak jarang, orang-orang Eropa itu juga sudah beranak istri di negeri asal.

Para nyai harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk melalui beragam cara demi kesejahteraan hidup, seperti melibatkan diri dalam dunia perdagangan. Mereka akhirnya terbiasa berurusan dengan uang, yang tidak pernah diperbuat seorang perempuan priyayi Jawa di masa itu. Mereka tidak lagi sekadar hiasan di rumah-rumah perkebunan.

Nyai ini adalah perempuan maju di jamannya. Nyai merupakan perempuan pertama yang terpenetrasi oleh kebudayaan baru yang dibawa tuan mereka. Mereka belajar bahasa Belanda (dan bahasa Eropa lainnya), menambah pengetahuan mengenai segala hal melalui kebiasaan membaca buku, dan memiliki kehidupan rumah tangga yang demokratis.

Para nyai juga mendampingi tuan mereka dalam pergaulan. Mereka tidak seperti perempuan-perempuan Bumiputra yang bersembunyi di balik dinding kamar atau dapur untuk mencuri dengar pembicaraan-pembicaraan kaum laki-laki dengan para tamu. Memang tidak dapat disangkal, nyai telah dimodernisasi untuk kepentingan tuan mereka, agar bisa memerankan penjaga rumah dan pendamping yang sederajat dan tidak memalukan di mata teman sejawat.

Keberadaan nyai dalam gejolak modernisme di Hindia cenderung dilupakan. Sejarah sedikit mencatat perjuangan para perempuan yang mengecap pendidikan secara formal dari golongan priyayi.  Kartini pun tak pernah menyinggung dalam surat-suratnya tentang perempuan Bumiputra yang menjadi nyai. Adalah mustahil bagi seorang Kartini tidak mengetahui praktik pernyaian di masanya. Atau surat-surat dan tulisannya yang menyinggung soal nyai tak diijinkan keluar oleh bapaknya yang seorang Bupati Jepara,  RMA Sosroningrat? Sang ayah menjadi pintu sensor  apakah tulisan ataupun surat Kartini bisa dipublikasikan atau tidak.

Pernyaian atau pergundikan masa kolonial berangsur-angsur lenyap ketika perempuan bangsa Belanda dan Eropa lainnya berimigrasi ke Hindia dalam skala besar. Pernyaian sebagai budaya, rekayasa kolonial berpotensi untuk menarik pemicu ke semua arah ini. Pernyaian tidak hanya sekadar bentuk penindasan terhadap perempuan masa kolonial, tetapi bentuk penindasan kelas yang berkuasa terhadap kelas yang dikuasai.

Dalam pernyaian, terdapat nilai-nilai yang lebih fundamental seperti asas persamaan ras, kebebasan, persaudaraan, pemberontakan atas “kebudayaan yang sakit” yang bertolak belakang dengan praktik-praktik kolonialisme di Hindia. Semangat para nyai yang liberal pun menurun kepada anak-anaknya, yang tak jarang meneruskan ibunya sebagai organ modernisme juga penentang aturan-aturan diskriminatif dan feodal yang sakit.