Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), menyelenggarakan Forum Grup Discussion (FGD) dan Refleksi Kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kampus Mengajar (KM) periode 2021, yang diselenggarakan atas kerjasama dengan FKIP UMP, LPPM UMP, dan Kemendikbud RI pada hari Senin, tanggal 20 Desember 2021, yang bertempat di R.M. Tahu Sumedang Pak Emang Tambaksogra, Purwokerto. FGD tersebut dimulai pada pukul 08:00 dan merupakan FGD pertama, sebagai rangkaian penelitian Hibah MBKM Kemdikbud. FGD menghadirkan pembicara inti yakni Saefurrohman, Ph.D., Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum., dan Dr. Asep Daud Kosasih, M.Ag., dengan peserta, para dosen, para mahasiswa, dan mitra sekolah Kampus Mengajar program studi Pendidikan Sejarah. Kegiatan dibuka oleh Kaprodi Pendidikan Sejarah, Sumiyatun Septianingsih, M.Pd., dan berperan sebagai moderator, yaitu Ipong Jazimah, M.Pd.
Saefurrohman, Ph.D., sebagai pembicara pertama sekaligus Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FKIP UMP, menyampaikan presentasi berjudul Kebijakan MBKM dan Kampus Mengajar di FKIP UMP. Dalam paparannya, Saefurohman menyampaikan bahwa pada kurikulum MBKM, pemerintah memberikan peluang kepada mahasiswa secara luas untuk mengembangkan diri selama mahasiswa menempuh perkuliahan. Melalui kurikulum merdeka belajar, beliau menyampaikan hendaknya mahasiswa mampu memanfaatkan peluang untuk mengembangkan kompetensinya dengan kegiatan di luar kampus dan dapat dikonversi ke dalam SKS matakuliah mahasiswa. “FKIP telah memfasilitasi program studi untuk mengembangkan struktur kurikulum yang dapat mengakomodir Kurikulum Merdeka Belajar,” tutur Wakil Dekan FKIP itu. Sementara itu Prof. Dr. Sugeng Priyadi, guru besar Pendidikan Sejarah FKIP UMP, menyampaikan bahwa implementasi kampus mengajar dalam kurikulum merdeka belajar dalam tahun pertama perlu dilakukan evaluasi dan refleksi terkait dengan keselarasannya pada visi, misi, tujuan, dan profil program studi. Mahasiswa dalam implementasi kampus mengajar yang menjadi bagian dalam program yang diselenggarakan kementerian pendidikan di tahun pertama di tempatkan di sekolah dasar, dan pada tahun kedua harapannya ditempatkan di sekolah menengah oleh penyelenggara. Meskipun begitu, mahasiswa harus mampu memanfaatkan kegiatan tersebut untuk mengembangkan kompetensinya sebagai calon pendidik sejarah.
Dalam kegiatan refleksi MBKM program Kampus Mengajar, Sutaryo, S.Pd.SD, yaitu Kepala Sekolah SDN 3 Prigi Sigaluh Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah, mewakili mitra sekolah Kampus Mengajar, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program Kampus Mengajar mampu membantu dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun non pembelajaran. “Kami sangat terbantu, adanya program kampus mengajar, baik dalam pembelajaran di kelas maupun dalam kegiatan non pembelajaran seperti pengelolaan perpustakaan sekolah,” ujar Sutaryo. Sutaryo berharap kegiatan Kampus Mengajar selain memberikan manfaat bagi sekolahnya, juga dapat memberikan pengalaman di dunia persekolahan.
Dalam kegiatan refleksi ini, mahasiswa-mahasiswi yang terlibat dalam kegiatan Kampus Mengajar memberikan pengalaman selama tiga bulan mengikuti kegiatan Kampus Mengajar. Mereka ditempatkan di sekolah-sekolah yang masih kekurangan tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Ada pengalaman menarik, sebagaimana disampaikan oleh Eka Sahara, bahwa untuk menuju ke sekolah tempat ia mengajar, yakni SDN 4 Caringin Kabupaten Garut Jawa Barat, ia harus melewati jalan setapak yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ia menempuh perjalanan 2 Jam dari rumahnya dengan motor, dan menitipkan motornya di sebuah rumah lalu meneruskan berjalan kaki menembus sawah dan ladang selama 30 menit untuk mencapai SDN 4 Caringin. Meski harus berjalan kaki, ia lakukan dengan senang hati bersama teman sekelompoknya yang sebagian besar mahasiswa keguruan dari UPI Bandung. “Saya tersadarkan bahwa masih banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus ditempuh oleh anak didik di negeri ini demi mengenyam pendidikan, dan saya merasa senang Kampus Mengajar memberikan pengalaman itu untuk masa depan saya,” tutup mahasiswa Semester VII Pendidikan Sejarah FKIP UMP itu.
Dr. Asep Daud Kosasih, dosen penanggap dan narasumber sesi Refleksi Kampus Mengajar menyampaikan bahwa kegiatan Kampus Mengajar, yang memberikan pengalaman, hendaknya dijadikan refleksi mahasiswa sebagai seorang calon guru. Pengalaman baik memberikan nilai-nilai pembelajaran bagi mahasiswa, sementara di sisi lain dalam menyikapi kekurangan-kekurangan yang ditemui di lokasi Kampus Mengajar, menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk turut memperbaikinya, terutama dalam tugas guru di lapangan dan keterampilan dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran. “Selain melaksanakan tugas Kampus Mengajar, mahasiswa UMP peserta Kampus Mengajar perlu memberikan nuansa Islami di sekolah tempat mengajar sesuai dengan Visi UMP yang memang mengintegrasikan program Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), dan hal itu sangat relevan dengan kompetensi Kepribadian dan Sosial yang harus dimiliki oleh seorang guru,“ tutup Dr. Asep Daud dalam program FGD. FGD ini bagian dari kegiatan hibah penelitian Kampus Mengajar Kemendikbud tahun 2021, sasarannya untuk refleksi pelaksanaan program kampus mengajar dan menemukan rekomendasi masukan akademik program studi dalam pengembangan kurikulum terutama yang menunjang kegiatan akademik di luar kampus selaras dengan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka ke depan. Program studi Pendidikan Sejarah FKIP UMP, meloloskan 9 (sembilan) mahasiswa dalam kegiatan MBKM Kampus Mengajar yang telah dilaksanakan pada tahun 2021 dan dikelola secara terpusat oleh Kemdikbud.



