
Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UMP Kembali Menyelenggarakan FGD Lanjutan (FGD 2) Program MBKM Kampus Mengajar 2021
Pada hari Sabtu, tanggal 25 Desember 2021, Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), kembali menyelenggarakan Forum Grup Discussion (FGD) yang merupakan lanjutan dari FGD sebelumnya, dengan fokus membahas “Perangkat MBKM dan Hasil Temuan- temuan Kampus Mengajar 2021”, bertempat di R.M. Oemah Tahu Sumedang Pak Eman Tambaksogra, Purwokerto. Kegiatan FGD yang seharusnya dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 28 Desember, diajukan di hari Sabtu tersebut, karena pada tanggal 27 Desember harus sudah melakukan pemaparan hasil.
Kegiatan ini masih merupakan rangkaian penelitian Hibah Kegiatan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kampus Mengajar (KM) periode 2021, yang diselenggarakan atas kerjasama dengan FKIP UMP, LPPM UMP, dan Kemendikbud RI.
Kegiatan FGD dimulai pada pukul 08:00, yang diawali penjelasan dan materi tentang Bagaimana Menyusun Perangkat MBKM dan Implementasinya, dengan menghadirkan pembicara inti yaitu Suwarsito, S.Pi., M.Pi., dari Prodi Pendidikan Geografi FKIP UMP, dengan pertimbangan bahwa beliau dan Timnya di Program Studi pernah mendapatkan Hibah Center of Exellent (CoE), yang merupakan satu-satunya penerima di UMP di tahun 2021. Program CoE, memiliki luaran berupa perangkat MBKM dan praktik- praktik kegiatan MBKM Kemendikbud.
Para pembiacara lainnya berasal dari Tim Hibah Prodi Sejarah, yang fokus membahas hasil temuan. Arifin Suryo Nugroho, M.Pd., memaparkan materi Hasil Temuan Data Arsip Program Kampus Mengajar, sementara Sumiyatun Septianingsih, M.Pd., fokus memaparkan Hasil Temuan Data Instrumen program tersebut. Peserta FGD masih dihadiri oleh para dosen, para mahasiswa, dan mitra sekolah Kampus Mengajar program studi Pendidikan Sejarah. Kegiatan dibuka oleh Kaprodi Pendidikan Sejarah, Sumiyatun Septianingsih, M.Pd., dan Ipong Jazimah, M.Pd., bertindak sebagai moderator.
Pemateri inti, Suwarsito, S.Pi., M.Pi., yang juga merupakan ketua Program Studi Pendidikan Geografi FKIP UMP, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa MBKM merupakan program Kemendikbud di tahun 2020, yang harus dilaksanakan oleh Prodi, dan sebelum itu Prodi harus melakukan peninjauan dan atau perubahan kurikulum sebagai tahap awal penyesuaian MBKM tersebut, dan itu tidak mudah karena harus mendapatkan izin juga dari semua dosen mata kuliah (MK). “…dalam tahap awal, Prodi harus menyusun atau meninjau kurikulumnya, dengan persetujaun semua Dosen pengampu mata kuliah, setelah itu melakukan workshop peninjauan kurikulum MBKM, kemudian menyusun draf kurikulum MBKM Prodi beserta perangkatnya. Meskipun untuk saat ini, kami masih mengacu pada kurikulum lama. Mata kuliah MBKM diperbanyak melalui mata kuliah pilihan yang tidak merubah mata kuliah inti. Perlu sekali mengundang stakeholder untuk menambah masukan-masukan yang sangat penting”, tutur Kaprodi Pendidikan Geografi UMP tersebut.
Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Sumiyatun Septianingsih, M.Pd., yang menyampaikan hasil temuan instrumen. Dijelaskan bahwa dari jumlah 34 responden guru penggguna di sekolah Mitra, dan 56 siswa, dari 9 (sembilan) Sekolah Dasar Negeri peserta KM, menyatakan bahwa proses komunikasi awal hingga akhir kegiatan, belum efektif. Kegiatan ini dianggap sebagai KKN mahasiswa. Kemendikbud sebagai pihak penyelenggara harus aktif menjelaskan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan melalui tim-nya. Sekolah yang menjadi tempat kegiatan juga tidak tepat sasaran, karena mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut hampir 90% adalah berasal dari jenjang pendidikan non PGSD. Program yang ditawarkan juga lebih banyak bersifat administratif satu arah, dan kurang inovatif. Namun secara umum, program Kampus Mengajar, dari hasil instrumen guru, dalam kategori Baik bagi sekolah, karena sangat membantu administrasi sekolah. Sementara para siswa memberikan penilaian Sangat Baik, karena mendapatkan kakak mahasiswa yang menyenangkan dalam pembelajaran.
Pembicara Arifin Suryo Nugroho, M.Pd., menyampaikan tentang hasil temuan- temuan data arsip program Kampus Mengajar, mulai dari tahap persiapan, implementasi dan hasil- hasilnya. “Bahwa tujuan KM adalah memberi kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan aktivitasnya di luar kampus, dan KM merupakan bagian dari asistensi mengajar dari 8 program MBKM. Namun, hal tersebut justru kurang tepat sasarannya untuk program studi karena tidak sesuai jurusannya dan satuan pendidikan yang ditempati, karena mahasiswa ditempatkan di Sekolah Dasar (SDN), baik pada KM pertama maupun kedua, yang berpotensi menimbulkan permasalahan di lapangan. Hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah didalam panduan MBKM yang ada”, tuturnya kemudian. Rekomendasi yang diberikan menurut beliau adalah perlunya panitai pusat (Kemendikbud) meningkatkan inovasi kegiatan, yang menyasar pada kegiatan non pembelajaran, agar konversi 12 SKS di KM pertama, dan 20 SKS di KM kedua, yang telah dikonversi oleh Prodi, untuk mahasiswa peserta Kampus Mengajar dapat terakomodir (terakomodasi) dengan baik. Prodi nantinya juga lebih efektif menyesuaikan kurikulum MBKM, mata kuliah basic dan peningkatan kompetensi bidang Sejarah.
Pihak mitra sekolah pada FGD 2, yaitu Guru Pamong MBKM program Kampus Mengajar, dari SDN 1 Cidora Lumbir Banyumas, Dadang Rosandi, S.Pd.SD, mewakili mitra sekolah Kampus Mengajar, menyampaikan bahwa program Kampus Mengajar sangat membantu sekolah, khususnya dalam adminsitrasi sekolah. “MBKM KM 2 berfokus pada literasi, numerasi, teknologi dan administrasi, telah berjalan dari bulan Agustus, yang dilakukan oleh Mahasiswa UMP dan universitas lainnya. Pada saat itu, mahasiswa menginginkan PTM, namun KORWIL belum mengizinkan, sehingga tetap dilakukannya praktik mengajar melalui daring. Mahasiswa MBKM diizinkan melakukan pembelajaran tatap muka, dengan fokus baca-tulis untuk kelas rendah, dan meteri untuk kelas atas. Dalam kegiatan MBKM, mahasiswa aktif membantu segala kegiatan yang ada di SD N 1 Cidora, misal, kegiatan monitoring administrasi, kegiatan PKKS, dan kegiatan lainnya”. lanjutnya kemudian. Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan sudah sesuai tema, terfokus kepada literasi dan numerasi, namun kegiatan luar tupoksi juga berjalan. Masukan dari sekolah yaitu agar mahasiswa Kampus Mengajar, dalam prosesnya diberikan pembekalan yang matang sebelum ditempatkan di sekolah mitra.
Pada kegiatan evaluasi FGD 2, para mahasiswa masih dilibatkan untuk memberikan gambaran pengalaman selama tiga bulan mengikuti kegiatan Kampus Mengajar. Seperti Faqih al Fauzan, yang juga ketua kelompok, dan mendapatkan sekolah mitra SDN 3 Prigi Sigaluh Banjarnegara, sekolah yang sama dengan Imelda Fitriana di KM 1. Menurutnya, saat awal akan penempatan, program kerja sudah disampaikan, namun memang terkendala komunikasi. Kegiatan banyak dilakukan pada administrasi. Sementara Alifa Rihha, memberikan pengalamanya tentang Kampus Mengajar di SDN Kaliajir Purwonegoro, Banjarnegara. “…siswa di sekolah ini masih minim dalam hal membaca, ada kelas 6 yang masih belum lancar membaca. Kegiatan yang dilakukan selain mengajar yaitu open donasi buku karena sekolah ini tidak memiliki perpustakaan”, tuturnya kemudian. Berbeda dengan Faqih dan Alifa, pengalaman Dwi Utari Anggraeni di SDN 1 Tangkisan Mrebet Purbalingga, berdasarkan pengalamannya selama KM 2, ia tidak diberi tanggungjawab kelas seperti peserta KM di SD lainnya, atau hanya sebagai guru pengganti. Kemmapuan membaca siswa masih kurang, oleh karena itu diadakannya bimbel setelah pulang sekolah. Kegiatan yang dilakukan selain mengajar yaitu manajemen perpustakaan, meliputi penataan buku, mendata buku dan sebagainya. Adanya program tanam pohon, melukis dinding dengan mural, dan melakukan pelatihan computer terhadap guru.
Pada sesi terakhir FGD 2, yaitu evaluasi atau pemaparan pandangan dari tim, yaitu Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum., serta Dr. Asep Daud Kosasih, M.Ag., dapat diuraikan sebagai berikut. Prof. Dr. Sugeng Priyadi, M.Hum., menyatakan: “…bahwa berdasarkan hasil yang telah digambarakan pada FGD 1 dan 2, pada program MBKM Kampus Mengajar 2021, secara umum, hasilnya belum maksimal dan jauh dari target (tujuan) atau bisa disebut buruk. Banyak komponen yang minus, dari segi peran kepala sekolah, guru, fasilitas sekolah, misal perpustakaan, literasi yang minim dan SDM SD yang rendah. Program MBKM ini dianggap tidak memenuhi syarat yang seharusnya, yaitu adanya kegiatan diluar sasaran MBKM. Selain itu, adanya 2 hal kontradiktif antara guru dengan mahasiswa. Keterampilan yang didapat dalam program MBKM ini bagi mahasiswa masih sangat minim. Oleh karena itu perlu dilaporkan/testimony dalam bentuk tulisan sebanyak 2- 3 halaman yang nantinya ditujukan kepada kementrian”, tutur beliau.
Sementara Dr. Asep Daud Kosasih, S.Pd.,M.Ag., memberikan evaluasi seperti berikut, “… mahasiswa Kampus Mengajar 1 dan 2, diminta untuk menulis laporan, dengan identitas mahasiswa, misalnya dalam bentuk memori tentang penngalaman KM, sebagai bahan rujukan dan mencakup berbagai aspek seperti pengalaman MBKM, peran guru, kepala sekolah, dosen pembimbing, dan evaluasi diri. Untuk hasil angket perlu ditambahkan konklusi, termasuk masukan dari DPL KM”, tutur beliau diakhir evaluasi.
Dari gambaran hasil kegiatan FGD pertama dan kedua, program MBKM Kampus Mengajar yang dilaksanakan di 9 (sembilan) sekolah mitra oleh Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UMP, memang masih banyak hal yang berkaitan dengan MBKM yang perlu dibenahi, baik dari sistemnya, teknisnya, pelaksanaan, sasarannya, refleksinya maupun evaluasinya, mulai dari tingkat pusat (Kemendikbud), hingga tingkat terbawah (sekolah mitra dan mahasiswa), agar MBKM di tahun 2023 yang resmi dilaksanakan, mampu memenuhi kebutuhan Prodi, Mahasiswa, Sekolah, dan pihak terkait lainnya. Aamiin.



