Sinopsis Buku Sejarah Lokal: Konsep, Metode dan Tantangannya

Karya Dr. Sugeng Priyadi, M. Hum
Ukuran 14,5 x 21; 160 hal
ISBN 978-602-7544-23-9

Dalam penulisan sejarah selama ini kita rupanya telah mengabaikan sejarah lokal. Dalam dunia pendidikan, misalnya, kurikulum sejarah kita dari waktu ke waktu cenderung hanya menampilkan sejarah nasionalini pun cenderung dijadikan legitimasi kekuasaan. Hal ini niscaya sangat disayangkan karena banyak peristiwa lokal yang bernilai edukatif, inspiratif, dan rekreatif. Tanpa pengetahuan tentang sejarah lokal, kita sebagai bangsa tidak akan menyadari realitas kebangsaan yang sesungguhnya. Tepatlah pernyataan Taufik Abdullah bahwa selama 60 tahun lebih telah terjadi kebutaan terhadap realitas lokal. Untuk itu, upaya menggalakkan penelitian dan penulisan sejarah lokal merupakan suatu hal yang mendesak dan urgen, apalagi jika ditinjau dari upaya pembangunan karakter bangsa.

 


Buku ini hadir dalam upaya menjawab urgensi seperti itu. Di dalamnya pembaca akan mendapati hal-hal elementer dan penting untuk memahami ilmu sejarah lokal. Misalnya konsep sejarah lokal, metode, unit-unit historis, relasi sejarah lokal dan Sejarah Nasional Indonesia (SNI), sumbangan sejarah lokal, historiografi tradisional, topik, metode, corak-corak studi sejarah lokal. Diberikan pula perspektif ke masa depan melalui materi tentang tantangan dan masa depan sejarah lokal. Materi-materi tersebut telah melalui proses pengujian dan penyempurnaan karena disusun dari bahan ajar yang telah digunakan pada mata kuliah sejarah lokal selama kurang lebih 23 tahun. Selain itu, penyusunnya adalah penulis spesialis sejarah lokal yang dengan tekun melakukan penelitian mengenai sejarah lokal Banyumas. 

Resensi Buku Tanam Paksa di Banyumas

 

 Resensi Buku Dosen Pendidikan Sejarah UMP

 Tanam Paksa Di Banyumas

 Karya Dr. Tanto Sukardi M.Hum


 

 

 

Sistem Tanam Paksa, adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.

Read more: Resensi Buku Tanam Paksa di Banyumas

Mengenang Kartini

Kartini Tidak Pernah Membahas Gundik?

oleh: Arifin Suryo Nugroho


Peranan perempuan dalam lintasan sejarah memiliki aneka makna dan tidak mungkin dilepaskan dengan struktur kemasyarakatan. Politik pintu terbuka terhadap modal luar negeri turut meningkatkan jumlah golongan menengah Eropa di Hindia Belanda. Lelaki Eropa membutuhkan perempuan di tanah jajahan dan memelihara perempuan pribumi. Nyai merupakan perempuan-perempuan pertama yang, selain maju di zamannya, tampak terpengaruh kebudayaan yang dibawa oleh modal dan tuan mereka. Keberadaan nyai dan pernyaian dalam gejolak modernisme di Hindia Belanda tampak dilupakan dan diasingkan dari sejarah.

 

Pernyaian dan Moral Kolonial

Perusahaan pertanian swasta yang tumbuh berkembang pada akhir Abad 19, ditandai dengan terbitnya UU Agraria 1870, mengkondisikan pemakaian tenaga kerja Bumiputra dan menggugah minat orang-orang Eropa untuk datang dan berburu nasib di Hindia Belanda. Kebanyakan tenaga kerja Eropa adalah laki-laki dan bagi yang sudah berkeluarga pada awalnya tidak memungkinkan untuk membawa keluarga mereka. Kondisi finansial pada awalnya tidak memungkinkan untuk menanggung anak istri, karena lelaki Eropa yang datang benar-benar hanya bermodal tekad mengadu peruntungan. 

Jumlah perempuan Eropa yang sangat sedikit pada masa itu menjadi pemicu logis bagi makin menggilanya satu bentuk pergundikan, yang telah dirintis pada masa kolonialisme VOC. Dan memang harus diakui bahwa kebutuhan seksual yang mula-mula menghadirkan nyai sebagai indigenous housekeeper, baboe―pembantu rumah tangga pribumidi daerah-daerah perkebunan.

Adapun yang disebut nyai, ialah perempuan yang dipelihara pejabat kolonial maupun swasta-swasta Belanda yang kaya. Bahkan sebelum Belanda datang, pedagang Asia dan Portugis sudah terbiasa memelihara nyai. Pada masa VOC, orang Belanda yang beristrikan orang Bumiputra tidak boleh membawa istri beserta anak-anak dari perkawinan itu ke negeri asalnya. Perkawinan tersebut dianggap tidak sah oleh gereja di sana. Peristiwa ini mendorong orang-orang kompeni untuk memelihara nyai, yang dapat setiap saat mereka tinggalkan.

Pada masa feodal, perempuan-perempuan kelas bawah tersebut menjadi korban pelampiasan seksual dan alat perluasan kekuasaan kaum bangsawan. Jumlah anak yang banyak dan tersebar di mana-mana juga akan memperkuat dan melanggengkan kekuasaan mereka. Perempuan-perempuan itu diangkut ke istana dan dijadikan “istri percobaan”, sampai raja dan bendoro-bendoro menemukan perempuan sederajat dan akan dikawini secara sah. Istri percobaan dapat diusir sewaktu-waktu dari istana dan tidak berhak mengasuh anak yang dilahirkannya. Selanjutnya pernyaian tidak hanya menyangkut pemenuhan biologis seorang laki-laki terhadap perempuan, melainkan harus dilihat pula implikasi ekonomi politik yang bersembunyi di belakangnya. Pada masa VOC, Jan Pieterszoon Coen mengemukakan bahwa perempuan merupakan prasyarat dalam berdagang: ”.....dasar negara di Hindia. Jika perempuan tersedia di pasar-pasar perdagangan di Hindia akan menjadi milik anda.”

 

Nyai Sebagai Organ Modernisme

Memelihara seorang Nyai membuka jalan untuk mempelajari adat setempat atau dapat digunakan untuk melenyapkan ras inlander itu sendiri, sebab anak-anak yang dilahirkan ditetapkan sebagai orang Eropa. Di samping itu, hubungan kebudayaan yang pertama justru berlangsung melalui perkawinan ini. Semuanya bertolak dari pergundikan atau perkawinan dengan perempuan Indonesia, Cina, atau Indo-Eropa. Pada setiap peristiwa, mula-mula perempuan tampil sebagai pembantu, walaupun sesudah perkawinan itu kedudukan perempuan ini akan mengalami perubahan yang sangat besar, Mengalami peningkatan status sosial lebih tinggi dibanding bangsa inlander lainnya.

 

Read more: Mengenang Kartini

Resensi Buku Perang Dingin

 

 

Resensi Buku Dosen Pendidikan Sejarah UMP

Perang Dingin: Episode Sejarah Barat dalam Perspektif Konflik Ideologi

Karya Dr. Tanto Sukardi, M.Hum

Sejarah telah mencatat peperangan yang unik namun mengerikan. Perang tersebut adalah perang ideologi yang telah memecah dunia menjadi dua bagian : Blok Timur dan Blok Barat. Para ahli sejarah menyebut perang ini dengan nama ‘perang dingin’. Meski jauh dan riuh keramaian senjata, namun perang ini sangat mengerikan. Tak heran jika perang dingin ini memiliki kareakteristik tersendiri yang berbeda-beda dengan Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Suasana tegang,ketakutan, kecurigaan, sekaligus semangat untuk memepertahankan diri dan membela kelompoknya bercampur aduk menjadi satu membentuk perilaku  bangsa-bangsa. Suasana ketegangan ini sebagaimana digambarkan Dr. Tanto Sukardi Mhum. Dalam buku ini. Benar-benar memberi suasana dilematis sekaligus menjadi hantu yang menakutkan.

Ringkasan Resensi ditulis Fatkhul Anas

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 April 2012

Sumber: radiobuku

 

 

TRAGEDI CIKINI: Skenario Gagal Membunuh Soekarno

TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa pelemparan granat pada 30 November 1957 di Perguruan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, dikenang sebagai Jumat durjana bagi rakyat Indonesia. Ketika itu sekelompok pemuda berupaya membunuh Presiden Soekarno. Namun, upaya itu ternyata gagal belaka.

Cerita selamatnya Presiden Soekarno alias Bung Karno dari upaya pembunuhan di Cikini disarikan kembali oleh Arifin Suryo Nugroho dalam bukunya berjudul Tragedi Cikini, Percobaan Pembunuhan Presiden Soekarno, yang terbit pertama kali pada 2014. Buku ini juga diselipi kata pengantar dari Asvi Warman Adam, peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang juga ahli sejarah di Tanah Air.

Read more: TRAGEDI CIKINI: Skenario Gagal Membunuh Soekarno

Hubungi Kami

Program Studi Pendidikan Sejarah

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Jl. Raya Dukuhwaluh PO BOX 202

Purwokerto 53182

Kembaran, Banyumas

Telp : (0281) 636751, 630463, 63424 Ext. 134

Fax  : (0281) 637239